Dinia. Powered by Blogger.
RSS

Pesan Singkat Ning (part 1)



Kisah ini hampir dua bulan transit di folderku. Alhamdulillah sekarang bisa diposting. Ini kisah sederhana namun bagiku sangat menarik, karena pelakunya adalah sosok yang bagiku juga sangat unik dan menarik. ^_^

Hari itu, minggu pagi, aku mengecek ponsel, ada pesan singkat dari karibku, Nining. Isinya sebait puisi yang menyiratkan letih. Aku masih belum mengerti hal apa yang sedang dialaminya kini. Tapi aku membalas pesannya sebisaku. Berharap bisa menemaninya ; mengurai bebannya, melihat masalah dari sudut yang berbeda. Barangkali ini bisa memberinya udara untuk sedikit bernafas lega.

Jadi beginilah kami berbalas pesan …
 
Nining, 24/06/2012 09:34
Berbisik dalam keributan,
dan selalu bertanya dalam lelah.
Merasakah ?
Terlalu lama diam itu singgah,
hingga menjadi kebisuan yang abadi.
Diam. Tidak ada jawaban.
  


Sumber photo : http://m.ak.fbcdn.net/a8.sphotos.ak/hphotos-ak-ash4/s720x720/316225_2573830704820_386945938_n.jpg

Aku, 24/06/2012 10:20
Diam, kadang memang inilah persinggahan
; tempat istirah hati yang lelah,
tempat merebah bersama sunyi,
karena ia memahami,
tanpa interupsi,
tanpa menghakimi.

Nining, 24/06/2012 11:38
Dan diam membunuh jiwa ku


Aku, 24/06/2012 11:51
Diam bisa membunuh jika
kau gunakan ia sebagai senjata keterlenaan.
Sebagai persinggahan, diam hanyalah tempat.
Pada akhirnya, kamulah yang harus memilih
; akan tetap tinggal dalam diammu saja,
atau segera bergegas melanjutkan langkah

Nining, 24/06/2012 11:53
Tentu saja aku ingin melangkah,
bahkan berlari dalam kecepatan cahaya..
Andai saja waktu
mau berdamai dengan ku..

Aku, 24/06/2012 12:06
Hei, mengapa sekarang waktu
yang berbuat ulah ?
Bukankah waktu yang telah
Memberimu kesempatan
; membiarkanmu berencana,
melakukan segala yang kau suka,
menyediakan ruang untukmu meraih..
Waktu telah menemanimu tanpa mengeluh
; saat kau berlari,
pun saat kau jatuh.
Jangan tuntut damai pada waktu,
karena ia sudah cukup bersabar
menantimu berdamai dengan dirimu sendiri..


 Lalu jeda panjang terentang. Aku menunggunya membalas pesanku. Tapi saat kuhitung satu jam, dua jam, dan beberapa jam berikutnya, balasan itu tak kunjung tiba. Aku tak berani bertanya padanya : apa yang sebenarnya sedang dialaminya, apa yang membuatnya gundah? Biasanya jika terjadi sesuatu padanya, ia akan bercerita padaku : jelas dan detil. Tapi kali ini, dia hanya memberiku pesan singkat, berisi bait-bait yang bagiku serupa tanda tanya, dan sengaja diciptakan untuk kuterka.

Oh, ini bagaikan menyusun puzzle dengan bagian yang tak sempurna. Ini menarik, tentu saja. Tapi aku butuh petunjuk baru, dan Nining tak memberikannya untukku. Lalu, aku tertawa geli saat dalam benakku,  tiba-tiba terbersit sebuah judul film, dan dengan jahil aku menconteknya menjadi : Ada apa dengan Nining?

Ada banyak jawaban yang mampu kuterka dan probabilitasnya setara. Thesisnya sudah kelar, jadi kemungkinan bukan ini penyebab kegelisahannya. Hm, barangkali ia sedang disibukkan dengan tugasnya sebagai dosen, dari sebuah jurusan yang sedang dalam proses memperjuangkan eksistensi, tentu ini menguras tenaga dan emosinya. Apalagi jika ditambah dengan menghadapi mahasiswa keras kepala, yang tak bisa diatur dan diarahkan. Ya, ini kemungkinan pertama. Tapi, aku tak yakin, karena Nining orang yang selalu suka tantangan, hal semacam ini, aku ragu akan membuatnya goyah. Ini justru sesuatu yang disukainya, jadi agak mustahil jika ini masalah sesungguhnya.

Kemungkinan kedua, ia sedang menghadapi masalah keluarga. Terlalu lama berpisah dengan putra semata wayangnya untuk kuliah S2 di Jogja memang menyesakkan hati. Putranya yang masih balita, yang begitu lucu dan menggemaskan itu kini ia titipkan pada ibunya di Riau. Tanggung jawabnya sebagai pendidik untuk selalu mengupdate ilmu, memaksa ibu single parent ini meninggalkan buah hati yang begitu dicintainya itu untuk sementara waktu.  Barangkali kerinduan pada putranya yang sudah sangat membuncah, tak mampu ia bendung lagi dan membuatnya bersedih ? Tapi, kembali aku ragu. Ia baru menengok putranya bulan lalu, dan sebentar lagi mereka akan bertemu kembali saat ia wisuda, dan selanjutnya mereka akan berkumpul lagi untuk seterusnya. Jadi, apa mungkin ini masalahnya.

Atau jangan-jangan kemungkinan berikut inilah penyebabnya : cinta! Ya ! Bukankah cinta yang seringkali membuat kita berbuat di luar logika ? Beberapa waktu lalu dia menelpon, dan mengabariku bahwa dia sedang menjalin hubungan dengan seseorang yang membuatnya jatuh cinta. Ada energi yang meletup saat mendengarnya bercerita tentang kekasihnya itu. Baginya, lelaki ini bisa menjadi partner, mengenalkannya pada hal-hal baru, mengajaknya berpikir positif. Aku bahagia mendengar suka citanya.

Namun saat kutanya : akan kemana hubungannya itu akan bermuara ? Nining hanya menjawab : entah. Lalu segala riangnya berubah seketika menjadi pembicaraan serius. Ia bilang, sekalipun ia merasa nyaman, tapi ada kalanya ia merasa berada di dua kutub yang bagaimanapun kerasnya ingin berdekatan, namun selalu saja ada jarak yang memisahkan. Ia juga bilang bahwa ada hal sangat prinsip yang sulit untuk disatukan. ‘Sesungguhnya kami berbeda dalam banyak hal’, katanya suatu kali. Kukatakan padanya bahwa bukankah cinta seharusnya bisa menjadi solusi dari perbedaan dan bisa membuat mereka berdua bisa saling mengisi, saling melengkapi ? Ia menjawab, ‘Tak semudah itu, ini bagiku sangat prinsip’. Kutanya, apa yang sangat prinsip itu ? Ning bilang belum siap menceritakannya padaku. Aku hanya menghela napas. Penasaran, tentu saja. Tapi aku tak ingin memaksanya bercerita. Ia tentu butuh ruang untuk berpikir dan menimbang segala pilihan, juga kemungkinan.  Aku membayangkan wajah serius Ning di ujung telepon, barangkali dia juga menghela napas, sama denganku, berharap bisa mengenyahkan kemelut di dadanya.

Nining adalah sahabatku sejak kami sama-sama kuliah di Universitas Padjajaran Bandung. Ia teman ngobrol yang menyenangkan. Seperti saudara, ia penuh perhatian. Kadang kami bertengkar habis-habisan, saling ngotot, tak mau mengalah. Tapi sekejap berikutnya kami tertawa-tawa, saling mengolok-olok, tepuk cubit sayang, dan berpelukan. Ia tak mengeluhkan kekuranganku, begitupun aku sebaliknya. Kami saling menerima, memahami, mendukung dan berbagi.

Kini  kami berjauhan, ia kembali ke Riau, menjadi seorang dosen di Universitas Lancang Kuning dan aku di Pontianak bersama keluarga kecilku. Dua tahun terakhir Ning menyelesaikan S2-nya di UIN Sunan Kalijaga di Yogyakarta. Meski demikian, kami tak pernah luput berkirim kabar. September ini dia wisuda, dan kembali mengabdi di Riau. Aku turut bangga dan bahagia atas segala pencapaian-pencapaiannya. Dia perempuan tangguh, kuat, dan pantang menyerah. Ia begitu keras pada dirinya sendiri, namun bagiku, ia sungguh  berhati tulus, peka, dan lembut.

Aku beruntung menjadi karibnya. Atas segala perjuangan hidup yang ia lakukan selama ini, atas segala usaha yang dia upayakan 1001% dari seluruh kemampuan yang dia bisa, aku berharap Ning selalu mendapatkan yang terbaik dalam kehidupannya : rejeki yang baik, cinta yang baik, pekerjaan yang baik, keluarga yang baik, dan bahagialah yang menjadi ujung segalanya. Amin.

Ah, Ning .. apapun yang terjadi padamu, semoga engkau baik-baik saja..

-----
PS : I really miss u so much, sista...


Related Post : Pesan Singkat Ning (part 2)



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

4 komentar:

Nining said...

hehehehe, thank u ya ncim, miss u too, we are is wonder women, did you remember about that

Dinia said...

dasar org aneh ! rasanya aku salah ning...putus cinta tak membuatmu patah hati..hehehe

Nining said...

Bukankah cinta itu tidak selalu harus memiliki, aku mengemas cinta semusim, ku simpan apik dibilik hati dan menunggu seseorang yang mampu mengetuknya kembali.

Dinia said...

Makanya, punya cinta jangan musiman... kaya musim durian, sama rambutan, dua buah itu di tempatku lg musim ning ! hehehe...

Post a Comment

Search This Blog