Dinia. Powered by Blogger.
RSS

... (Ungkapan Cinta Tanpa Judul)



Sumber Gambar : http://kadek130891.files.wordpress.com/2011/09/love-u1.jpg


Senja ini kekasih
temaram teduh matahari yang selalu aku nanti
saat ia memantulkan kilau cahaya di matamu yang jernih
dan tatapan cinta yang kuharap akan selalu di sana tiap hari

Senja ini kekasih
jeda sebelum malam tiba
akan kudengarkan merdu suaramu
bercerita tentang kenangan
juga pasang surut musim yang mengiring perjalanan

'Semua ada masanya
jika saatnya tiba, tak ada yang bisa mencegah
jalan kemungkinan itu selalu di sana'
katamu padaku suatu ketika
bersama senja yang hendak menyudahi persinggahannya

Lalu masa yang kau janjikan itu tibalah
berputar cepat bagai mimpi
kau rangkaikan bersamaku di awal hari
berkejaran gembira menyambut kedatangan
gulungan peristiwa dan kejadian

'Mereka yang pergi akan dilewati
yang meraih akan menjadi
Sayang..
inilah indahnya mengalami'

Ah, senja ini kekasih
masih tangan kita bergenggaman
duduk di beranda
rumah kita yang menyimpan cerita
Bahwa uban sudah memenuhi kepala
kulit berkerut, tubuh renta tergerus usia
namun masih,
tatapan cintamu itu berkilau menyimak cahaya senja
yang hendak beranjak undur diri perlahan

Pontianak, 27 September 2011

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Memoar Burung-burung


Aku melihat percumbuan burung-burung di pagi hari
memanggil kekasihnya di ranting-ranting
menyapa anaknya yang baru lahir
berceloteh tentang perburuannya melawan angin dan badai
mengikuti cahaya fajar dan larik cuaca
serta kesaksian terbatah akan ulah manusia

Burung-burung kecil mengirim kabar berita
nyanyian di dahan-dahan yang tak utuh lagi
jejak anaknya yang pergi meninggalkan sarang
kekasihnya yang tak lagi datang
memaksanya terbang muram sendiri

Percumbuan burung-burung di pagi hari
terkubur sejak malam menggulung bumi
saat dahan-dahan tak tampak lagi
luruh bersama daun-daun terpanggang api

Ohh, nyanyian burung-burung ...
serupa doa yang menuntunku meninggalkan jasad
Saat nafasku mulai terdesak melawan hujan asap
daun-daun jadi abu
ruhku tinggal menunggu waktu...

Percumbuan burung-burung di pagi hari
akan kah esok datang lagi...

Jakarta, 4 Februari 2008

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pada Sebuah Halte

 

“Maukah kau menjadi ibuku ?”, seorang gadis kecil berusia 5 tahun, berbaju dekil, tanpa alas kaki menarik ujung blusku. Tatapannya penuh harap. 

“Hey, siapa namamu, Nak ? Kemana ibumu ?”, aku berjongkok, membelai rambut kusam anak itu. 

"Jika kau mau menjadi ibuku, maka sekarang ibuku ada didepanku” 

"Bukan, maksudku ibu kandungmu. Dimana dia ? Mengapa dia membiarkanmu di jalan sendiri ?”
 “Aku seharusnya tak pernah dilahirkan. Aku tiba-tiba saja aku ada di dunia. Aku tak tahu siapa yang melahirkanku. Apa jika perempuan melahirkan ia pasti menjadi ibu ?”

“Tentu saja, Nak. Ayo kita duduk di situ. Bus yang kutunggu belum datang”

Halte simpang dua masih selalu ramai pada petang hari menjelang maghrib. Tak ada kelas di sini. Semua orang sama, menunggu. Tak penting apa yang akan mereka naiki nanti, bus, angkot, atau taksi. Semua menunggu. Berharap kendaraan yang akan mengantar mereka segera datang dan membawa mereka dari kegelisahan penantian. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

JEDA

Resign dari tempat kerja yang hampir lima tahun kutekuni, benar-benar menjadi titik balik bagi hidupku. Setidaknya itulah yang kurasakan saat ini. Bagiku ini adalah pilihan yang berani. Apalagi aku keluar tidak untuk pindah kerja di tempat yang baru. Aku keluar begitu saja, berhenti, memberi titik di akhir kisahku di kantor itu.

Alasan untuk keluar tentu saja bermacam-macam. Sejak dua tahun bekerja di sana, memang hasrat untuk resign tinggi sekali. Mulai dari alasan tidak ada jenjang karir, tidak ada perbaikan income, merasa tidak diperlakukan dengan adil sebagai pekerja, seringkali merasa menjadi robot : melakukan hal-hal rutin yang mengacaukan kreatifitas dan hasrat berkarya. Ini belum ditambah alasan remeh-temeh yang kadang timbul tenggelam bergantung dengan situasi.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

USAI

Ini sebenarnya, sajak untuk kawan yang baru saja putus cinta di akhir tahun lalu. Dia menelponku, menangis tersedu, hingga meraung-raung. Kata-katanya berhamburan bersama sesenggukan. Tak jelas apa yang dikatakannya.
Esoknya, kami janji bertemu. Ajaib ! Untuk orang yang habis putus cinta, penampilannya sungguh tidak meyakinkan : dia memakai blus putih casual tanpa lengan, celana hitam bercorak bunga putih tiga per empat, sepatu tali berhak lima senti, rambut panjangnya dibiarkan tergerai, di hias bandana dan poni, melangkah santai, tersenyum rekah menghampiriku. Aku masih terbengong saat membalas pelukan dan cipika-cipikinya.
 Kuhujani dia dengan pertanyaan, seputar putus cintanya. Dia hanya menggeleng, tertawa ngakak. Aku makin bingung. Dia malah heboh sendiri memesan menu makanan : sup jamur, lumpia udang, rostduck, ice cream banana split, lemon tea. Katanya dia butuh banyak energi untuk bercerita padaku, maka dia memesan banyak menu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Rumah Kita


Awal Januari 2011 aku, kamu, kamu, dan kita, harus berkemas, meninggalkan rumah, kontrakan petak kecil kita, yang bagiku sekarang rasanya seperti istana. Rumah kontrakan dua kamar itu, yang gentingnya bocor kala hujan, yang membuat kita siaga banjir jika hujan menderas, yang terasnya selalu diseraki daun-daun pohon mangga depan rumah, yang paling sederhana diantara rumah petak di sekelilingnya, ia telah memberi kita tempat untuk menjadi keluarga.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ada Cerita di bulan Desember

Rinai hujan Desember ini, Sahabat... mengguyurkan emosi warna-warni : larutan rindu kita, bertemu dengan derai-derai tawa dan airmata. Melihatmu tumbuh, melihatku tumbuh, melihat kita tumbuh. Tapak-tapak kecil kita bermetamorfosa, menjadi jejak langkah, mencari jalan ke angkasa, tak gentar melihat ke depan, tak takut menghadapi : jalan yang kita pilih, resiko yang menghalang, pun keberuntungan yang kita dapati. 


Dan melihatmu kembali di akhir Desember ini, Sahabat... jiwaku meloncat! euforia meledak tak terkendali, pelukan suka cita kita melebur, cerita-cerita berlompatan dari bibir kita seolah tiada habis dikisahkan, dan menatapmu lagi...oh, ini seperti mimpi ! waktu serasa berhenti.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pergi ke PelukanNya

In Memoriam : 'Ami Munir Chozin



Dia kakak lelaki ibuku. Lahir tepat 2 tahun sebelum ibuku dilahirkan. Kakak adik ini sangat dekat. Mungkin itu pula yang membuat aku juga dekat dengannya. Aku memanggilnya ami. Panggilan ami berasal dari bahasa Arab 'Aamun artinya paman, sedangkan 'Ammy berarti pamanku. Aku tak tahu siapa yang mengajariku memanggilnya ami, tapi aku suka sekali dengan panggilan itu. Sekarang, hampir semua sepupuku juga ikut memanggilnya ami.

Orang bilang dia pendiam. Tapi menurutku tidak. Kami banyak menghabiskan waktu kami bertemu dengan mengobrol tentang banyak hal. Ingatannya tentang masa lalu sangat baik. Dia menceritakan kisah nyata seperti dongeng yang bagiku sangat menarik. Pernah kukatakan padanya : Ami ini seperti saksi sejarah saja. Dan dia hanya tertawa. Tawa ami hangat sekali, membuat wajahnya yang tampan bersemu merah. Ya, amiku berwajah tampan : hidungnya mancung seperti orang Arab, matanya teduh, berkulit putih. Ami tidak terlalu tinggi, kurang dari 160cm kukira, tapi dia selalu berpenampilan modis dan bagiku ami selalu tampak keren.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Search This Blog