Kisah ini hampir dua bulan transit di folderku. Alhamdulillah sekarang bisa diposting. Ini kisah sederhana namun bagiku sangat menarik, karena pelakunya adalah sosok yang bagiku juga sangat unik dan menarik. ^_^
Hari itu, minggu
pagi, aku mengecek ponsel, ada pesan singkat dari karibku, Nining. Isinya
sebait puisi yang menyiratkan letih. Aku masih belum mengerti hal apa yang
sedang dialaminya kini. Tapi aku membalas pesannya sebisaku. Berharap bisa
menemaninya ; mengurai bebannya, melihat masalah dari sudut yang berbeda.
Barangkali ini bisa memberinya udara untuk sedikit bernafas lega.
Jadi
beginilah kami berbalas pesan …
Berbisik dalam keributan,
dan selalu bertanya dalam lelah.
Merasakah ?
Terlalu lama diam itu singgah,
hingga menjadi kebisuan yang abadi.
Diam. Tidak ada jawaban.
Sumber photo : http://m.ak.fbcdn.net/a8.sphotos.ak/hphotos-ak-ash4/s720x720/316225_2573830704820_386945938_n.jpg
Sumber photo : http://m.ak.fbcdn.net/a8.sphotos.ak/hphotos-ak-ash4/s720x720/316225_2573830704820_386945938_n.jpg
Aku, 24/06/2012 10:20
Diam, kadang memang inilah persinggahan
; tempat istirah hati yang lelah,
tempat merebah bersama sunyi,
karena ia memahami,
tanpa interupsi,
tanpa menghakimi.
Nining, 24/06/2012 11:38
Dan diam membunuh jiwa ku











