Pesan Singkat Ning (part 2)
Pesan Singkat Ning (part 1)
Sumber photo : http://m.ak.fbcdn.net/a8.sphotos.ak/hphotos-ak-ash4/s720x720/316225_2573830704820_386945938_n.jpg
Anindya
Aku telah menantimu sekian lama dengan harapan, kecemasan, dan doa-doa sepanjang sujud malam.
Aku telah menantimu dengan sepenuh kesabaran yang kubisa...
Dan sekarang...
Putriku, selamat datang di dunia yang penuh tantangan & perjuangan ini, Nak ..
Namun, aku tahu engkau putriku sungguh tangguh
: yang carut akan kau urai, yang lusuh-usang akan kau indahkan...
Tumbuhlah, tumbuh putri kecilku..
Raihlah! Genggamlah !
Doaku selalu mengiring langkahmu, nak...
Putriku tercinta : Anindya Erleane Soviahanna
Lahir di Pontianak, 19 Februari 2012
Masih
Your Cigarette
such as freezes on your lips
blowing thin smoke gray
cigarette butts, like a monument in your ashtray
If it makes you warm when the cold nights
or makes you calm when your heart tremble
You don't care
But surely,
Your cigarettes become a haven of beautiful darkness
till the night passes...
Pontianak, 25 Desember 2011
The poem is for you who still smoked with pleasure
but, doesn't that just a runaway, Dear? ^_^
Perempuan Bernama Indah - part 1
Aku bertemu dengannya dengan cara yang biasa. Beberapa kali melihatnya di televisi saat dia melaporkan peristiwa, menyajikan berita. Lalu melihatnya lagi di rumah kos baruku di Kedoya Kebon Jeruk pada penghujung tahun 2006. Aku tersenyum saat melihatnya berlalu meninggalkan kesan padaku : lincah, energik, cantik, bersemangat, dan jalannya selalu bergegas rancak dengan heels yang tampak mantap di kakinya. Kami hanya berbagi senyum, bertegur sapa, dan sudah. Aku tahu perempuan itu bernama Indah. Tapi saat itu aku yakin dia tak akan mengingatku lagi jika kami bertemu di jalan.
Suatu hari, dia sakit usus buntu. Usus buntunya harus di potong, harus operasi. Aku tak tahu kapan persisnya dia melakukan operasi usus buntunya itu. Hanya saja hari itu kosanku ramai pengunjung, orang-orang kantor tempat dia bekerja menengoknya. Aku pikir, sebagai teman kos yang baik, sepatutnya aku juga menengoknya.
Dan di sanalah dia, terbaring cantik dengan tumpukan bantal, selimut, dan suasana kamar yang bernuansa pink. Ya ! Pink! Aku tersenyum melihatnya terbaring ceria, menyapaku, dan bercerita panjang lebar sambil menunjukkan jahitan operasinya. Dia menyala seperti pijar-pijar kembang api yang membuat siapapun gembira melihatnya. Bagiku sungguh ajaib ! Untuk ukuran orang baru operasi dengan jahitan masih basah dan masih perih saat bergerak, dia masih saja terlihat antusias, full energi.
... (Ungkapan Cinta Tanpa Judul)
Senja ini kekasih
temaram teduh matahari yang selalu aku nanti
saat ia memantulkan kilau cahaya di matamu yang jernih
dan tatapan cinta yang kuharap akan selalu di sana tiap hari
Senja ini kekasih
jeda sebelum malam tiba
akan kudengarkan merdu suaramu
bercerita tentang kenangan
juga pasang surut musim yang mengiring perjalanan
'Semua ada masanya
jika saatnya tiba, tak ada yang bisa mencegah
jalan kemungkinan itu selalu di sana'
katamu padaku suatu ketika
bersama senja yang hendak menyudahi persinggahannya
Lalu masa yang kau janjikan itu tibalah
berputar cepat bagai mimpi
kau rangkaikan bersamaku di awal hari
berkejaran gembira menyambut kedatangan
gulungan peristiwa dan kejadian
'Mereka yang pergi akan dilewati
yang meraih akan menjadi
Sayang..
inilah indahnya mengalami'
Ah, senja ini kekasih
masih tangan kita bergenggaman
duduk di beranda
rumah kita yang menyimpan cerita
Bahwa uban sudah memenuhi kepala
kulit berkerut, tubuh renta tergerus usia
namun masih,
tatapan cintamu itu berkilau menyimak cahaya senja
yang hendak beranjak undur diri perlahan
Pontianak, 27 September 2011
Memoar Burung-burung
Aku melihat percumbuan burung-burung di pagi hari
Pada Sebuah Halte
"Bukan, maksudku ibu kandungmu. Dimana dia ? Mengapa dia membiarkanmu di jalan sendiri ?”
“Aku seharusnya tak pernah dilahirkan. Aku tiba-tiba saja aku ada di dunia. Aku tak tahu siapa yang melahirkanku. Apa jika perempuan melahirkan ia pasti menjadi ibu ?”
“Tentu saja, Nak. Ayo kita duduk di situ. Bus yang kutunggu belum datang”
Halte simpang dua masih selalu ramai pada petang hari menjelang maghrib. Tak ada kelas di sini. Semua orang sama, menunggu. Tak penting apa yang akan mereka naiki nanti, bus, angkot, atau taksi. Semua menunggu. Berharap kendaraan yang akan mengantar mereka segera datang dan membawa mereka dari kegelisahan penantian.
JEDA
USAI
Rumah Kita
Awal Januari 2011 aku, kamu, kamu, dan kita, harus berkemas, meninggalkan rumah, kontrakan petak kecil kita, yang bagiku sekarang rasanya seperti istana. Rumah kontrakan dua kamar itu, yang gentingnya bocor kala hujan, yang membuat kita siaga banjir jika hujan menderas, yang terasnya selalu diseraki daun-daun pohon mangga depan rumah, yang paling sederhana diantara rumah petak di sekelilingnya, ia telah memberi kita tempat untuk menjadi keluarga.
Ada Cerita di bulan Desember
Pergi ke PelukanNya
In Memoriam : 'Ami Munir Chozin
![]()
Dia kakak lelaki ibuku. Lahir tepat 2 tahun sebelum ibuku dilahirkan. Kakak adik ini sangat dekat. Mungkin itu pula yang membuat aku juga dekat dengannya. Aku memanggilnya ami. Panggilan ami berasal dari bahasa Arab 'Aamun artinya paman, sedangkan 'Ammy berarti pamanku. Aku tak tahu siapa yang mengajariku memanggilnya ami, tapi aku suka sekali dengan panggilan itu. Sekarang, hampir semua sepupuku juga ikut memanggilnya ami.
Orang bilang dia pendiam. Tapi menurutku tidak. Kami banyak menghabiskan waktu kami bertemu dengan mengobrol tentang banyak hal. Ingatannya tentang masa lalu sangat baik. Dia menceritakan kisah nyata seperti dongeng yang bagiku sangat menarik. Pernah kukatakan padanya : Ami ini seperti saksi sejarah saja. Dan dia hanya tertawa. Tawa ami hangat sekali, membuat wajahnya yang tampan bersemu merah. Ya, amiku berwajah tampan : hidungnya mancung seperti orang Arab, matanya teduh, berkulit putih. Ami tidak terlalu tinggi, kurang dari 160cm kukira, tapi dia selalu berpenampilan modis dan bagiku ami selalu tampak keren.
NOW OR NEVER
Apa rasanya diam membisu sekian lama ? Kram, kesemutan, mati rasa, hilang akal ? Ya tentu saja. Seperti yang kurasakan di rentang waktu hampir setahun terakhir : diam membisu. Aku melihat, aku mendengar, aku merasakan, aku berpikir, tapi aku diam saja : tak bersikap, tak berbicara, tak melakukan apa-apa.
Sampai pada suatu masa saat aku tak bisa menampung segala yg masuk di pikiranku, di hatiku. Sampai cawan penyimpanan di kepalaku meluber, meleleh, mengalir ke arah yang tak bisa kuikuti jejaknya. Sampai aku merasa di ujung tanduk kehidupanku : diikat kuat diatas ketinggian ribuan meter diatas bumi, dan siap dilemparkan.
Maka di sinilah aku : memulai lagi membuka mulutku, memulai lagi berbuat sesuatu, belajar bersuara, biarpun yang keluar lirih saja. Rasa sakit, gelisah, tidak menentu tiba-tiba mendominasi segalanya, ketika kram, kesemutan, mati rasa dan kawan-kawannya itu kupaksa bergerak. Tak apa, ini memang buah dari diam sekian lama, nanti juga terbiasa.
Rinduku, Bunda ...
ingin nanda ceritakan tentang sayap-sayap
mencari setiap celah untuk memperpendek jarak,
mengumpulkan keindahan dalam telapak untuk dibawa pulang ke pangkuan
tapi nanda tak gentar
sebab cinta dan doamu menjadi energi tak berbatas
Menolak Tidur
Ya! akupun sepakat. Tapi tidak dengan pikiran yang bercokol di otakku. Entah mengapa rasanya otakku menolak untuk tidur, entah mengapa rasanya dia memaksa mataku untuk terus terbuka, menjajah tubuhku untuk melakukan sesuatu, mencari-cari daftar panjang alasan untuk membujukku : tak boleh tidur.
Cerita Berawal dari Sini
Bismillahirrahmaanirrahiim...
Fiuff!!aku akan atur napasku sebentar...
Entah mengapa rasanya grogi sekali aku menulis postingan pertamaku ini, setelah sekian lama aku berhenti menulis...ya! sudah lama sekali aku tak menulis, atau katakanlah berbagi cerita dengan tulisan. Barangkali rutinitas sudah begitu kuatnya memenjarakanku, mendesain saraf tubuhku menjadi seperti robot : melakukan segala sesuatu secara otomatis, menciutkan otakku, tak banyak berpikir, hanya bertindak seperti yang sudah diharuskan entah oleh apa, entah oleh siapa...
Tapi, otak kecilku ini ternyata memang mesin supercanggih ciptaan Yang Maha Segalanya, biarpun sudah dikerdilkan sedemikian rupa, ia tetap bisa menyimpan memori, impian, segala rasa yang mulai kebas, berjejalan, dengan volume yg makin bertambah dari waktu ke waktu, meluber ke alam bawah sadar, menjelma hantu bernama kegelisahan, merengsek tidak sabar, saling dorong, saling hantam, hingga akhirnya meledak!!berhamburan...
Maka disinilah aku, dengan grogi memulai lagi bercerita tentang banyak kisah yang tersimpan, memasang kepingan ingatan, mengaktifkan kembali segala rasa, agar aku bisa membaca lagi, mengambil hikmah dan berbagi pada siapa saja ...
Kalimat pertama yang kuingat saat aku terbangun dalam kesadaranku adalah "... jangan pernah menerima ruang-ruang gelap dalam hidup...karena cahaya akan tetap ada, dan kita hanya diminta untuk menekan tombolnya agar tetap menyala .. " Akh! tapi mengapa aku masih lupa siapa yang mengatakan itu padaku...Hm, siapapun dia...terimakasih, sudah membangunkanku dari "tidur panjang" ini..
















